Gerakan "One Village, One Product" telah menarik perhatian dari daerah di mana mereka berpenghasilan rendah tidak dapat menarik industri teknologi tinggi, dan juga dari orang - orang yang bekerja pada proyek - proyek pengentasan kemiskinan. Gerakan ini merekomendasikan penduduk setempat untuk menggunakan sumber daya lokal untuk menghasilkan tinggi nilai tambah produk, dan membawa hasil yang mereka buat ke pasar.
Beberapa Nama/ Sebutan OVOP di Berbagai Negara (Local Diplomacy)
Nama/ Sebutan OVOP Negara/ Kota
1. One Factory One Product Shanghai, China
2. One City One Product Shanghai, China
3. One District One Product Shanghai, China
4 One Village One Treasure Wuhan, China
5 One Town One Product Jiangsu, China
6 One Capital One Product Jiangsu, China
7 One Village One Product Shanxi, China
8 One Village One Product Jiangxi, China
9 One Barangay One Product Phillippine
10 One Region One Vision Phillippine
11 Satu Kampung Satu Produk Movement Malaysia
12 Back to Village East Java, Indonesia
13 One Tambon One Product Movement Thailand
14 One Village One Product Movement Cambodia
15 Neuang Muang Neuang Phalittaphan Movement Laos
16 Neg Bag Neg Shildeg Buteegdekhuun Mongolia
17 One Village One Product Day Los Angeles, USA
18 One Parish One Product Movement Louisiana, USA
19. Zonasi Desa Sentra Komoditi Pangandaran West Java Indonesia
Konsep OVOP dan Ekonomi Kreatif menempatkan pembangunan SDM sebagai faktor penting. Sasaran yang dituju pada konsep OVOP adalah produk lokal yang berorientasi global dengan pendekatan komunal. Sementara itu, dalam ekonomi kreatif pendekatan yang digunakan adalah individual. OVOP mengedepankan nilai tambah atas produk (beberapa produk) yang sudah ada, ekonomi kreatif mengharuskan pembaruan atas produk dan/atau jasa yang telah ada atau menghadirkan produk dan jasa yang benar-benar baru dalam suatu proses inovatif. Perbedaan keduanya bisa dijembatani dengan kebijakan politik pemerintah yang kondusif. Tumpang tindih dan “perebutan wewenang” menangani kedua potensi kreatif masyarakat justru akan mematikan jalan menuju Indonesia sejahtera, adil dan makmur
Dalam jejaring komunitas UKM harus terus terdapat :
(1) berbagi gagasan;
(2) dialog terbuka;
(3) berbagi pengalaman;
(4) berbagi pengetahuan;
(5) networking;
(6) toleran,serta;
(7) saling bersinergi.
Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong terciptanya produk-produk baru, mendorong inovasi, memupuk semangat kebersamaan serta terus mengembangkan skill dalam melakukan peningkatan kualitas produk agar mampu bersaing. Dengan adanya skema interaksi tersebut, UKM-UKM dalam jejaring komunitas akan dapat terus berkembang secara optimal. Secara berkesinambungan diperlukan peran triple helix untuk mendukung perkembangan UKM tersebut.
Peran Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kota)
Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kota) mempunyai peran yang penting dalam membangun potensi produk unggulan lokal di daerahnya. Berkaca dari pengalaman yang telah dilakukan oleh negara Jepang, pemerintah harus mampu menjadi penggerak dilaksanakannya konsep One Village One Product (OVOP) di setiap desa daerahnya yang mempunyai produk unggulan. Regulasi untuk menerapkan OVOP yang telah digulirkan di tingkat pusat, harus memiliki turunan petunjuk pelaksanaan bagi daerah sehingga daerah dapat mengimplementasikan OVOP dengan efektif.
Bagi Pemda sendiri, disini harus mampu memanfaatkan semua potensi yang ada di daerahnya masing-masing melalui langkah-langkah berikut:
(1) melakukan koordinasi dengan aparat sampai tingkat bawah (desa) untuk mendiskusikan konsep OVOP;
(2) pejabat berwenang langsung turun lapangan untuk memberikan pemahaman mengenai konsep OVOP kepada masyarakat setempat;
(3) memanfaatkan media massa khususnya TV untuk membangkitkan pelaksanaan OVOP;
(4) pemda mempersiapkan berbagai lembaga kajian dan laboratorium untuk mendukung upaya promosi produk yang khas desa. Dalam tahap inilah produk unggulan desa dikaji bersama para pakar untuk menetapkan fokus pengembangan produk yang ada di desa.;
(5) membentuk pondok belajar (pusat latihan) di beberapa tempat untuk menghasilkan local leader/intelektual yang menjadi pelopor dan penggerak OVOP di desa. Produk unggulan desa yang telah dijadikan fokus disini terus didalami agar semakin dapat memunculkan citra daerahnya;
(6) pemda berusaha memperkenalkan dan menginformasikan produk-produk khas desa kepada masyarakat di dalam dan luar wilayah; dan
(7) pemda memberikan penghargaan terhadap orang atau kelompok yang berusaha sukses melaksanakan OVOP.
Dalam pengembangan UKM dengan konsep OVOP di perlukan penanganan industri secara mendalam, antara lain mulai dari pemetaan masalah, pembangunan infrastruktur, memperkuat jaringan akses pendanaan sehingga melakukan inovasi untuk mengembangkan produktivitas. Hanya diharapkan penerapan sistem industri kluster sangat tergantung kepada efektivitas hubungan kerja sama pemerintah pusat, daerah dan dunia usaha. Tanpa kerja sama dan komitmen yang tinggi, pengembangan industri nasional akan berhenti.
Peran Swasta
Peran swasta disini adalah sebagai pihak pemacu gerak UKM agar bertumbuh dan berkembang dan mampu menghasilkan produk-produk yang dapat bersaing sehingga produk lokal Indonesia siap menghadapi persaingan bebas ASEAN-China 2010. Pihak swasta yang terlibat disini diantaranya adalah seperti diantaranya:
(1) Investor, disini berperan sangat penting dalam meningkatkan skala usaha melalui aliran pendanaan yang diberikan kepada UKM yang menerapkan konsep OVOP;
(2) Distributor, disini berperan dalam hal penyaluran produk-produk hasil UKM untuk dapat dipasarkan ke area yang lebih luas. Dengan adanya kerjasama dengan pihak distributor besar, maka produk UKM akan lebih mudah disebar di pasar yang luas dan akan mudah dikenal secara global;
(3) Supplier, disini supplier adalah pihak yang telah bergerak dalam penyediaan bahan baku tertentu dalam jumlah besar. Dengan bekerjasama dengan supplier, UKM dapat memperoleh bahan baku yang dibutuhkan dengan harga yang dapat ditekan sehingga dari segi harga produk nantinya dapat lebih bersaing lagi. Selain itu, sektor swasta juga dapat memiliki peran pembinaan kepada UKM mengenai strategi-strategi pengembangan usaha. Disini swasta sekaligus menjalankan fungsi corporate sosial responsibility (CSR) perusahaan. Dengan adanya kekuatan swasta yang mendukung UKM ini, maka nantinya produk yang dihasilkan UKM dipacu untuk dapat meningkatkan kualitas juga kuantitas.
Peran Intelektual
Dalam menerapkan One Village One Product (OVOP), perkembangannya tidak bisa dilakukan dalam jangka pendek namun membutuhkan waktu yang lama dan prosesnya secara bertahap. Untuk melakukan berbagai program pendukung One Village One Product (OVOP), landasan utamanya harus human capital. Agar human capital ini terus berkelanjutan aktor utama yang terlibat adalah intelektual, yaitu pendidik, peneliti, penulis, pelopor di daerah, serta tokoh di bidang entrepreneurship. Cara-cara konkrit yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan pelatihan-pelatihan potensi-potensi UKM daerah dan mengadakan riset mengenai pengembangan sektor-sektor produk potensi lokal agar bisa terus berinovasi dan bersaing di pasar asing. Para intelektual inilah pihak yang dianggap memiliki pengetahuan dan pandangan yang luas mengenai pengambangan suatu produk yang dimiliki daerah masing-masing, dan juga tentang perkembangan persaingan usaha. Sehingga dengan keterlibatan kaum intelektual, maka UKM dapat mempunyai strategi persaingan yang tepat.
Dalam rangka kampanye OVOP tiga hal yang diperlukan, yaitu selain fulfilling desa-desa yang potensial sekaligus penduduknya; menyeleksi produk-produk competitive yang berasal dari bahan-bahan lokal dengan menggunakan kearifan lokal dan keterampilan keterampilan yang unik untuk menghasilkan produk-produk asli, unik dan bernilai yang ditujukan untuk pasar domestik maupun global serta asli juga termasuk komitmen dan campur tangan pemerintahan lokal dan pusat. Efektivitas dan keberhasilan pelaksanaan OVOP tidak lepas dari 6 kunci sukses pelaksanaannya, yaitu: kesadaran dan pemahaman SDM tentang OVOP, menggali potensi yang tersembunyi dari masing-masing desa/wilayah. Selain memperhatikan produk-produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, melanjutkan percobaan-percobaan dan usaha-usaha yang terus-menerus, membangun pasar dan saluran distribusi serta pembinaan bakat dan kreativitas SDM, juga merupakan beberapa kunci sukses penerapan program OVOP.