Selasa, 19 Februari 2019

BATA HEBEL

Bata hebel atau bata ringan merupakan jenis material konstruksi bangunan pengganti bata merah yang memiliki bobot ringan jika dibandingkan dengan batu bata lain. Bata hebel ini terbentuk dari campuran bahan-bahan seperti pasir, semen, kimia busa, gypsum, kapur, pasta alumunium, dan air. Proses pembuatannya pun sudah sangat modern karena menggunakan mesin pabrik.
Karena berbagai keunggulannya, bata hebel semakin dicari dan diminati, terutama oleh para pengembang atau developer perumahan. Bata hebel yang telah teruji standard SNI ini biasanya digunakan sebagai pondasi utama dalam membuat dinding rumah. Hal ini karena bata hebel bersifat ekonomis dan ringan sehingga terbilang cukup efisien dan cepat untuk digunakan dalam pembangunan proyek rumah, apartemen, hotel maupun proyek properti lainnya.
Selain ringan dan ekonomis, apa saja kelebihan dari bata hebel yang ditawarkan? Dan, apa saja kekurangannya yang perlu diperhatikan? Yuk, temukan jawabannya pada ulasannya berikut ini.

Sejarah Bata Hebel

  by Zen-zoro


Sejak tahun 1923, bata hebel sudah digunakan sebagai material pengganti bata merah di Swedia. Tahun 1943, untuk pertama kalinya Jerman menggunakan bata hebel sebagai material konstruksi bangunan. Saat itu, seorang ahli bernama Joseph Hebel memodifikasi bata ini dengan sangat beragam hingga menjadikan bata yang semakin kuat. Oleh karena itu, bata ini diberi nama ‘Bata Hebel’ untuk menghormati usaha Joseph Hebel.
Sedangkan di Indonesia, bata hebel sudah dikenal sejak awal tahun 1995. Sebelumnya, bata merah lebih digunakan sebagai material pada dinding rumah karena harganya yang relatif lebih murah dari bata hebel. Tetapi, kini sudah banyak yang tertarik menggunakan material bata hebel. Tentunya yang tertarik adalah mereka yang memiliki budget yang tinggi dan berpikir jangka panjang untuk mengaplikasikan bata hebel pada bangunan.

Jenis – Jenis Bata Hebel

  by Zen-zoro


Sebelum menyimak kelebihan dan kekurangan bata hebel, Anda perlu mengetahui jenis-jenisnya terlebih dahulu. Umumnya, terdapat dua jenis bata hebel yang beredar di pasaran, yakni bata hebel Autoclaved Aerated Concrete (AAC) dan bata hebel Cellular Lightweight Concrete (CLC). Untuk membandingkan kedua jenis bata hebel tersebut, simak penjelasan berikut ini.
Bata Hebel AAC
Bata hebel AAC merupakan beton seluler yang gelembung udaranya terbentuk dari reaksi kimia. Adapun bahan-bahan AAC umumnya terdiri dari pasir kwarsa, semen, kapur, sedikit gypsum, air, dan alumunium pasta sebagai bahan pengembang atau pengisi udara secara kimiawi.
Agar mudah mengenali dan membedakan, Anda bisa melihat jenis bata hebel dari segi warnanya. Bata hebel AAC ini berwarna putih karena terbentuk dari beragam materialnya. Untuk proses pembuatannya, biasanya menggunakan peralatan sederhana di industri rumahan yang kapasitas produksinya tidak begitu besar.
Karena material dan proses produksi AAC berbeda dengan CLC, maka bobot AAC cenderung lebih ringan. Tetapi, jika ingin menggunakan bata hebel AAC ini untuk dinding rumah, maka Anda membutuhkan semen khusus, yakni mortar atau thinbed.
Bata Hebel CLC
Bata hebel CLC merupakan beton konvensional yang mengganti material kerikil dengan gelembung udara. Dalam proses produksi, CLC menggunakan busa organik yang kurang stabil sehingga tidak ada reaksi kimia saat pencampuran adonan. Busa atau foam berfungsi hanya sebagai media pembungkus udara.
Jika bata hebel AAC berwarna putih, berbeda dengan bata hebel CLC yang memiliki warna abu-abu. Hal tersebut karena CLC terbuat dari material pasir sungai atau pasir tambang. Oleh karena itu, bobot CLC lebih berat dari AAC.
Umumnya, proses produksi bata hebel CLC menggunakan peralatan yang canggih dan modern sehingga bisa menghasilkan kapasitas produksi yang banyak dengan kualitas yang baik. Jika tertarik untuk memasang pada dinding rumah Anda, CLC ini bisa dipasang dengan semen 

Ukuran dan Harga Bata Hebel

 Rumah by A2studio



Umumnya, bata hebel memiliki beberapa tingkat ketebalan, yakni 75 mm, 100 mm, 125mm, 150 mm, 175 mm, dan 200 mm. Semakin tebal bata hebel yang Anda pilih maka akan semakin kuat kekuatan dinding yang dibangun. Namun, apakah semua ukuran tersebut mudah didapatkan? Tidak juga. Ukuran yang paling mudah ditemukan adalah ukuran 75 mm dan 100 mm.
Biasanya penjualan bata hebel menggunakan satuan meter kubik dengan harga yang menyesuaikan dengan daerah Anda. Umumnya, harga bata hebel untuk per 1 m² berkisar antara Rp700.000 hingga Rp750.000.
Bagaimana dengan spesifikasi bata hebel? Simak di bawah ini.
Panjang : 600 mm
Tinggi : 200 mm – 400 mm
Tebal : 75 mm – 100 mm
Berat jenis kering : 520 kg/m³
Berat jenis normal : 650 kg/m³
Kuat tekan : > 4,0 N/mm²
Konduktifitas termis : 0,14 W/mK
Tebal spesi : 3 mm
Ketahanan terhadap api : 4 jam
Jumlah per 1 m² : 8 – 9 buah
Bagaimana dengan proses produksinya? Ragam material seperti semen, pasir, dan air diaduk dalam mesin molen. Lalu, campuran bahan-bahan tersebut dimasukkan ke dalam mesin foam generator dan diberikan kimia busa. Apabila sudah rata, adonan tersebut akan dicetak seperti proses pembuatan bata merah. Selanjutnya, setelah dicetak adalah proses pengeringan dengan dijemur.

Kelebihan Bata Hebel

 Rumah by Arq. Bernardo Hinojosa
Arq. Bernardo Hinojosa


Mengapa bata hebel semakin dicari dan diminati para pengembang atau developer? Tentunya karena material pengganti bata merah ini menawarkan berbagai keunggulan dalam membangun bangunan. Apa saja kelebihannya? Ini dia.
1. Memiliki bobot yang lebih ringan dibandingkan dengan bata biasa sehingga beban struktur menjadi lebih kecil.
2. Ukuran yang dihasilkan lebih rapi dan seragam sehingga membuat dinding lebih rapi.
3. Memiliki ketahanan yang cukup baik sehingga jika terjadi gempa kemungkinan ambruk lebih kecil dari bata merah.
4. Kedap air sehingga kemungkinan terjadinya rembesan air pada dinding sangat kecil.
5. Tahan terhadap api.
6. Lebih kedap suara sehingga privasi di dalam rumah lebih terjaga.
7. Lebih hemat penggunaan perekat karena tidak memerlukan siar yang tinggi saat pemasangan.
8. Mudah di-instalasi karena bata hebel lebih mudah dibor atau dipotong.
9. Lebih mudah diangkut ke lokasi proyek.
10. Proses pemasangan lebih cepat dan mudah sehingga menghemat biaya pemasangan dan tentu, biaya membangun ruma

Kekurangan Bata Hebel Rumah by Livia Martins Arquitetura e Interiores


1. Tidak bisa menggunakan perekat biasa, melainkan membutuhkan perekat khusus, yakni semen instan yang dapat ditemukan di pasaran.
2. Membutuhkan tenaga pemasang yang berpengalaman dalam memasang bata hebel.
3. Harga bata hebel cenderung lebih mahal dibandingkan bata biasa dan biasanya hanya tersedia di toko bangunan besar atau distributor yang menyediakan.
4. Pembelian bata hebel harus dalam jumlah yang banyak (m³) Lebih sulit dikeringkan jika terkena air.
5. Dibutuhkan penggunaan roskam bergerigi untuk menempelkan semen mortar.
6. Karena ukurannya yang besar, untuk penggunaan ukuran tanggung akan menyisakan bata hebel yang terbuang. Untuk itu diperlukan perhitungan yang tepat.
Setelah menyimak pemaparan material bata hebel di atas, tentunya Anda sudah mengetahui kelebihan dan kekurangannya. Pastikan Anda menyesuaikan dengan kebutuhan, budget, serta keinginan Anda dalam memilih bata untuk bangunan.
terimakasih atas respon anda. admin

Minggu, 10 Februari 2019

TAFSIR Surah ke 96; 19 ayat Al-‘Alaq (segumpal darah)



Surah ke 096; 19 ayat
Al-‘Alaq
(segumpal darah).

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Pembuka Surah al-‘Alaq.
Orang yang dibangunkan Allah s.w.t. dari tidur yang melalaikan dan diberi petunjuk oleh-Nya untuk keluar dari alam dunia menuju cakrawala wujud; pasti mengetahui kalau tanda-tanda adanya perlindungan Ilahi dan karamah-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapat bantuan dari sisi-Nya dan ditarik menuju diri-Nya adalah; pertama Dia mengingatkan dan mengajari mereka sejumlah nama-namaNya yang baik (asmā’-ul-ḥusnā) dan sifat-sifatNya yang agung, lalu membuat mereka terus menekuni nama dan sifat-Nya tersebut, sampai memancar sumber hikmah laduniyah yang ditanamkan dalam hatinya, yang menetes dari lautan zat keesaan. Lalu hikmah itu muncul dari lisannya dan, pada saat itu, ia pun menjadi orang yang selalu mengingat Rabbnya, bermukim di martabat keyakinan ilmiah. Kemudian dari martabat keyakinan ini, ia terus mendaki sampai ilmunya menjadi terlihat, lalu dari yang terlihat menjadi suatu kebenaran dan terjelaskan.
Karena itulah Allah s.w.t. memerintahkan kekasih-Nya, Nabi Muḥammad s.a.w., pertama dengan berdzikir dan mengingat nama-namaNya setelah Dia berkeinginan mendidik dan memuliakannya. Setelah memberikan keberkahan, Allah s.w.t. berfirman: (بِسْمِ اللهِ) [Dengan menyebut nama Allah] yang mengatur perkara manusia dengan pengaturan yang terbaik, (الرَّحْمنِ) [Yang Maha Pemurah] kepadanya di mana Dia menciptakannya dalam bentuk yang paling baik, (الرَّحِيْمِ) [lagi Maha Penyayang] kepadanya di mana Dia menunjukinya tempat kembali terbaik.
Ayat 1.
(اِقْرَأْ) [Bacalah] wahai rasul yang paling sempurna, dan ingatlah setelah kamu diberi perlindungan dan dikelilingi oleh karamah ilahiyah (بِاسْمِ رَبِّكَ) [dengan (menyebut) nama Rabbmu], yakni terus-menerus mengingat semua nama pendidikmu (الَّذِيْ خَلَقَ) [yang menciptakan] segala sesuatu dan memunculkannya dari ketiadaan menurut nama-nama dan sifat-sifatNya, lalu mengasuhnya dengan berbagai macam kelembutan dan kemuliaan, dan menghalalkan sebagian besar kenikmatan baginya.
Ayat 2.
Terlebih (خَلَقَ الْإِنْسَانَ) [Dia telah menciptakan manusia] dan mengistimewakannya dari makhluk yang lain dengan melimpahkan berbagai kenikmatan dan kebaikan kepadanya. Padahal Allah s.w.t. menciptakan dan menjadikan wujudnya (مِنْ عَلَقٍ) [dari segumpal darah] yang hina, yang berasal dari air mani yang hina, dan air mani ini berasal dari darah yang mengalir yang terbentuk dari proses makanan.
Setelah Allah s.w.t. memerintahkan manusia terkasih-Nya – Muḥammad s.a.w. – untuk membaca dan menghitung nama-namaNya, Dia pun kembali memerintahkannya untuk membaca agar ia bisa merenungkan dan memikirkan makna-maknanya serta menyingkap maksud dan simbol yang terkandung di dalamnya dengan berfirman:
Ayat 3.
(اِقْرَأْ) [Bacalah] dengan bacaan yang penuh perenungan, pendalaman, dan penyingkapan atas segala keindahan dan keanehan yang terkandung di dalamnya. Jangan terpaku dengan keadaanmu sebagai seorang ummiy yang tidak ahli dalam mendikte karena (وَ رَبُّكَ الْأَكْرَمُ) [Rabbmulah Yang Paling Pemurah], yang sempurna kemurahan dan hidayah-Nya kepada orang-orang yang mendapat perlindungan.
Ayat 4.
(الَّذِيْ عَلَّمَ) [Yang mengajarkan (manusia)] tulisan dan angka (بِالْقَلَمِ) [dengan perantaraan qalam], di mana kalam ini adalah fase-fase dalam belajar dan memahami.
Janganlah kamu menjauhkan diri dari kemurahan dan perlindungan Allah s.w.t. yang sempurna, wahai Rasul yang paling sempurna, maka Dia pasti mengajarimu.
Ayat 5.
Sebab (عَلَّمَ الْإِنْسَانَ) [Dia mengajarkan kepada manusia] yang diciptakan dalam bentuk Sang Raḥmān, (مَا لَمْ يَعْلَمْ) [apa yang tidak diketahuinya] dari penjelasan dan keterangan serta berbagai macam cara menyingkap dan mengetahui sesuatu. Sebab kamu, wahai rasul yang paling sempurna, adalah manusia yang paling terhormat keadaannya, paling berharga petunjuknya, dan paling tinggi kedudukannya.
Setelah Allah s.w.t. menyebutkan penciptaan awal manusia dan materinya sampai akhir perjalanan dan tujuannya. Dia merasa kagum dengan keadaannya. Dia pun menjauhkan kesewenang-wenangan, kekufuran, kedurhakaan, dan permusuhan yang berasal dari dirinya, diiringi dengan perlindungan dan kemurahan Allah s.w.t. yang sempurna kepadanya. Dengan nada menghalangi dan mencegah, Dia pun berfirman:
Ayat 6.
(كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ) [Ketahuilah! Sesungguhnya manusia] yang diciptakan dari kotoran yang hina, lalu naik menuju kemuliaan terakhir dan maqam tertinggi (لَيَطْغَى) [benar-benar melampaui batas], melanggar ketentuan-Nya, bersikap takabbur kepada Rabbnya, dan melupakan asal kejadiannya hanya:
Ayat 7.
(أَنْ رَّآهُ) [Karena ia melihat] dan mengetahui kalau (اسْتَغْنَى) [dirinya serba cukup]. Maksudnya, ia menjadi orang yang merasa tidak membutuhkan Allah s.w.t. bersikap sombong kepada hamba-Nya yang lain, dan berjalan di atas bumi dengan penuh kecongkakan karena memiliki reruntuhan dunia dan perhiasannya yang fana.
Dengan alasan apa kamu berlaku sewenang-wenang dan bersikap sombong, wahai manusia yang dihinakan, direndahkan, dan diciptakan dari barang yang hina?
Ayat 8.
(إِنَّ إِلَى رَبِّكَ) [Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah], yang memunculkannya dari ketiadaan dan menciptakanmu dari campuran yang hina, kamu (الرُّجْعَى) [kembali]. Maksudnya, kembali ke akhirat. Lalu Allah s.w.t. membalasmu berdasarkan semua perbuatan yang telah kamu lakukan setelah sebelumnya Dia menghisabmu dengan adil.
Kemudian Allah s.w.t. menetapkan untuk menyebutkan salah seorang yang telah berlaku sewenang-wenang, yang merasa dirinya serba cukup, dan yang bersikap sombong karena pangkat dan kekayaan yang dimilikinya, yaitu Abū Jahal. Tentang Abū Jahal ini, Allah s.w.t. berfirman:
Ayat 9.
(أَرَأَيْتَ) [Bagaimana pendapatmu] wahai orang yang dapat mengambil pelajaran, yang dapat melihat, yang berlaku durhaka, dan yang sewenang-wenang: (الَّذِيْ يَنْهَى) [tentang orang yang melarang], mencegah, dan menghalangi:
Ayat 10.
(عَبْدًا) [seorang hamba] yang sempurna dalam ibadahnya, yaitu Muḥammad s.a.w., (إِذَا صَلَّى) [ketika ia mengerjakan shalat] dan menghadap kepada Rabbnya dengan seluruh anggota tubuhnya. Namun kamu ingin memalingkannya dari Rabbnya?
Ini terjadi karena Abū Jahal pernah berkata: “Seandainya saya melihat Muḥammad sedang bersujud, maka aku akan menginjak lehernya.” Lalu pada suatu hari ia melihat Nabi s.a.w. sedang bersujud dan ia pun mendatanginya dengan niat akan menginjaknya. Namun ia mengurungkan niatnya dan berpaling pergi. Saat ia ditanya: “Apa yang terjadi denganmu? Mengapa kamu tidak jadi menginjaknya?” Ia menjawab: “Saat itu, antara aku dengannya ada parit yang dipenuhi dengan api, hal-hal yang mengerikan, dan bangunan tinggi yang memisahkan aku dengannya.”
Kemudian dengan nada yang penuh ancaman dan celaan, Allah s.w.t. berbicara kepada orang yang zhalim ini dengan berkata:
Ayat 11.
(أَرَأَيْتَ) [Bagaimana pendapatmu], maksudnya: beritahukanlah kepada-Ku, wahai orang yang berbuat kerusakan dan benar-benar tenggelam dalam kedurhakaan dan penentangan, (إِنْ كَانَ) [jika orang yang dilarang] mengerjakan shalat – yaitu Nabi Muḥammad s.a.w. – (عَلَى الْهُدَى) [itu berada di atas kebenaran] dan petunjuk.
Ayat 12.
(أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى) [Atau ia menyuruh bertakwa (kepada Allah)] dan menjauhkan diri dari tuntutan hawa nafsu yang berusaha menghalanginya dari melakukan suatu perbuatan yang sesuai dengan perintah dan petunjuk-Nya.
Ayat 13.
(أَرَأَيْتَ) [Bagaimana pendapatmu], maksudnya: beritahukan pula kepada-Ku kalau kamu juga akan tetap mencegahnya dari mengerjakan shalat (إِنْ كَذَّبَ) [jika ia (Rasulullah s.a.w.) mendustakan] Allah s.w.t. (وَ تَوَلَّى) [dan berpaling] dari ketentuan perintah dan larangan-Nya?
Ringkasnya, kamu akan tetap melarang dan menghalanginya dari mengerjakan shalat, baik ia berada di atas kebenaran, atau menyuruh bertakwa seraya menjauhi hawa nafsu, atau mendustakan Allah s.w.t. dan berpaling dari qadha’ yang berlaku kepadanya. Maksudnya, laranganmu itu tidak lain disebabkan oleh sikap fanatisme dan kedurhakaanmu, baik ia berada dalam posisi yang benar dalam perbuatannya maupun dalam posisi yang salah.
Kemudian dengan nada mengecam dan mencela, Allah s.w.t. berfirman tentang si pendusta ini:
Ayat: 14.
(أَلَمْ) [Tidakkah ia], yaitu orang yang melarang, berlaku sombong, dan keterlaluan dalam kezhaliman dan kesewenang-wenangannya, (يَعْلَمْ بِأَنَّ اللهَ) [mengetahui bahwa sesungguhnya Allah], Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Mampu untuk memberikan kenikmatan dan pembalasan, dapat (يَرَى) [melihat] dan mengetahui segala perbuatan yang berbentuk perbedaan dan perselisihan yang berasal darinya. Lalu Dia akan membalasnya sesuai dengan ilmu dan pengetahuan-Nya.
Ayat 15.
Selanjutnya Allah s.w.t. berfirman: (كَلَّا) [ketahuilah] untuk menyangkal kedustaan dan penentangan orang yang melarang dan berlaku sombong, (لَئِنْ لَّمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ) [sungguh jika ia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya] dan Kami penjarakan ia dalam posisi wajah yang ditelungkupkan di api yang menyala-nyala, demi untuk menyiksa orang-orang kafir yang berlebih-lebihan dalam kesewenang-wenangan dan penentangannya.
Ayat 16.
Adapun ubun-ubun yang ditarik oleh Allah s.w.t. adalah (نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ) [ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka]. Tujuan Allah s.w.t. menggambarkan ubun-ubun tersebut dengan dua sifat ini adalah untuk membesar-besarkan dan menekankan masalah penyiksaan ini.
Ayat 17.
Setelah Kami menarik ubun-ubunnya dan menghukumnya berdasarkan kezhaliman-Nya, (فَلْيَدْعُ نَادِيَهْ) [maka biarkanlah ia memanggil golongannya] dan orang-orang yang dapat membantunya dari cengkraman Kami pada saat itu.
Ayat 18.
Padahal (سَنَدْعُ) [kelak Kami juga akan memanggil] dan memerintahkan supaya mereka menolong dan menyelamatkan orang-orang yang berteriak memohon pertolongan kepada mereka, dari (الزَّبَانِيَةَ) [malaikat Zabāniyah]. Yaitu dari para polisi yang ditugaskan di neraka Jahannam untuk menyeretnya menuju neraka dalam keadaan terhina dan terendahkan.
Ayat 19.
Kemudian Allah s.w.t. mengulangi kalimat (كَلَّا) [sekali-kali jangan] untuk menguatkan pencegahan-Nya terhadap orang yang berdusta, berlaku sombong dan sewenang-wenang. Lalu Dia melarang kekasih-Nya, Muḥammad s.a.w., dari mentaati orang yang zhalim, mematuhi perkataannya, bersikap lembut kepadanya, dan berpaling kepadanya, dengan berfirman: (لَا تُطِعْهُ) [janganlah kamu patuh kepadanya] yang maksudnya adalah, teruslah kamu dalam shalatmu dan janganlah kamu berpaling pada halusinasinya, wahai rasul yang paling sempurna: (وَ اسْجُدْ) [dan sujadlah] kepada Rabbmu dengan penuh ketundukan dan kekhusyu‘an: (وَ اقْتَرِبْ) [dan dekatkanlah] dirimu kepada-Nya dengan mencampakkan semua kebutuhan watak kemanusiaanmu, mengharamkan dirimu dari mengambil bagian duniamu, dan menggugurkan semua materi yang melekat pada dirimu secara mutlak.
Dalam sebuah hadits dikatakan: “Posisi terdekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud.” (691). Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu, masuklah kamu ke dalam golongan orang-orang yang sujud, dan sembahlah Rabbmu sampai ajal mendatangimu.

Penutup Surah al-‘Alaq.
Wahai orang yang sedang berusaha mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. dan berupaya untuk sampai di cakrawala ketuhanan – semoga Dia membantumu dalam usaha dan pencarianmu ini -; kamu harus senantiasa berada dalam ketaatan, beribadah dengan penuh keikhlasan, merendahkan diri dengan sempurna, dan menyingkirkan segala hal yang melampaui batas. Sebab seorang hamba tidak akan dapat mendekatkan diri kepada-Nya kecuali dengan kepatuhan total, merendahkan diri, meniadakan diri dari semua tuntutan kemanusiaan, dan disifati sebagai orang yang mematikan keinginannya di mana sifat ini dapat mewariskan kehidupan yang abadi nan kekal.
Semoga Allah s.w.t. memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang disifati sebagai orang yang mematikan keinginannya dengan karunia dan kedermawanan-Nya.
Catatan:

  1.  69). H.R. Muslim [1/350, nomor hadits: 482], at-Tirmidzī [5/569, nomor hadits: 3579], Abū Dāwūd [1/231, nomor hadits: 875], al-Ḥakīm dalam al-Mustadrak [1/395, nomor hadits: 969].
terimakasih atas respon anda. admin

Sabtu, 09 Februari 2019

KAMPOENG DAMAI LOH JINAWI



















"KAMPOENG DAMAI LOH JINAWI"
SIKEPIS ISTITUTE Pondok Pesantren Petani Nusantara :Sang Cipta Rasa" Dusun Cibadak, Desa Paledah, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, berupaya keras mendorong partisipasi masyarakat Dusun Cibadak, Desa Paledah untuk terlibat menjadi agen perdamaian & Kemakmuran dari 'bawah'. Sejauh ini, kerja sama kedua lembaga ini telah melahirkan sejumlah indikator atau ciri khas desa yang menyandang gelar sebagai "KAMPOENG DAMAI LOH JINAWI".
Setidaknya, ada sembilan indikator yang telah ditetapkan. Indikator-indikator ini disusunkan melalui sejumlah proses termasuk dialog dan konsultasi bersama elemen masyarakat dan perangkat desa.
Berikut kesembilan ciri "KAMPOENG DAMAI LOH JINAWI" : 
1) Adanya komitmen untuk mewujudkan "KAMPOENG DAMAI LOH JINAWI"; 
2) Adanya pendidikan dan penguatan nilai Perdamaian, Budaya, Agama dan Kemakmuran; 
3) Adanya praktik nilai - nilai persaudaraan dan toleransi dalam kehidupan warga; 
4) Adanya penguatan nilai dan norma kearifan lokal (Budaya - Agama - Kemakmuran); 
5) Adanya Sistem Deteksi Dini pencegahan intoleransi; 
6) Adanya sistem penanganan cepat, penanggulangan, pemulihan Pengangguran; 
7) Adanya peran aktif perempuan Wanita Tani & Muslimat di semua sektor masyarakat Desa; 
8) Adanya pranata bersama yang mendapat mandat untuk memantau pelaksanaan "KAMPOENG DAMAI LOH JINAWI"; dan 
9) Adanya ruang sosial bersama antar warga masyarakat. 
Kesembilan indikator tersebut saling berkaitan dan tentu pelaksanaannya butuh waktu, proses, dan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat.

Kesembilan indikator itu masih memerlukan panduan teknis sehingga dapat diterapkan ke dalam kehidupan masyarakat desa secara nyata. Panduan ini memaparkan langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan oleh anggota masyarakat dan perangkat desa untuk mengembangkan "KAMPOENG DAMAI LOH JINAWI" sesuai dengan kondisinya masing-masing.

MAJLIS DZIKIR JAMA'I PANGANDARAN JABAR CABANG KALIBATA JAKARTA

MAJLIS DZIKIR JAMA'I PANGANDARAN JABAR CABANG KALIBATA JAKARTA
Dzikir Jama'i Bulanan Tiap Minggu Manis Di Pondok Pesantren Petani Nusantara "Sang Cipta Rasa" Dusun Cibadak, Desa Paledah, Kec. Padaherang, Kab. Pangandaran, Jawa Barat.
terimakasih atas respon anda. admin

Sugih tanpa Bandha, Digdaya tanpa Aji, Nglurug tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake.

Sugih tanpa Bandha, Digdaya tanpa Aji, Nglurug tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake. Secara harafiah dapat diartikan: Kaya tanpa Harta, memiliki Kesaktian tanpa Ilmu/benda pusaka, Menyerang tanpa bala Pasukan, Menang tanpa Merendahkan.
1. Sugih tanpa bandha. Sugih tanpa bandha, kaya tanpa harta. Kaya yang dimaksud sebenarnya adalah tidak berkekurangan, artinya bukan semata-mata harta yang menjadikan tolok ukur. Kaya yang dituju dalam hidup bukanlah pengumpulan harta benda dan uang selama hidup.Tidak berkekurangan karena kita mempunyai relasi yang banyak, pertemanan yang banyak, dimana relasi tersebut membuat kita selalu mudah untuk melakukan segala sesuatu, karena relasi kita, teman-teman kita secara langsung / tidak langsung mau membantu kita, bahkan dengan sukarela / ikhlas. Hal tersebut sebenarnya berawal dari kita sendiri, dimana kita juga dituntut sebelumnya mau melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, bahkan tanpa imbalan sekalipun. Dengan demikian, dalam kehidupan kita, budi baik kita, akan senantiasi diingat orang lain, dan suatu waktu kita membutuhkan bantuan / pertolongan orang lain, orang lain yang juga dengan sepenuh hati menolong kita / membantu kita, juga tanpa imbalan.
2. Digdaya tanpa aji Kekuasaan sering kali tercipta karena suatu kemenangan fisik, kemenangan mental. Ungkapan Jawa ' digdaya tanpa aji ' tersebut di atas, kata-kata kekuasaan bukan juga karena kita mempunyai suatu ilmu beladiri / ilmu tenaga dalam / aji-aji. Namun disini, suatu kekuasaan tercipta karena citra dan wibawa seseorang, perkataannya, membuat orang lain sangat menghargainya. Sehingga apa yang diucapkannya, orang lain senantiasa mau mengikutinya.
3. Nglurug tanpa bala Ungkapan Jawa nglurug tanpa bala dapat di artikan secara harafiah ' menyerang tanpa pasukan '. Di sini memiliki arti bahwa kita haruslah menjadi orang yang berani bertanggung jawab, berani untuk beraksi walaupun terkadang tinggal kita sendiri. Sikap ini adalah mencontoh sikap kesatria, yang mana bukanlah orang yang mudah untuk terhasut, ikut-ikutan, tetapi lebih cenderung kepada orang yang berani maju, berani meghadapi masalah, berani untuk bertanggung jawab, walaupun yang lainnya mundur / lari dari masalah tersebut.
4. Menang tanpa ngasorake Ungkapan Jawa menang tanpa ngasorake tersebut memiliki arti bahwa tujuan pencapaian kita yang kita harapkan, kemenangan yang kita inginkan, haruslah tanpa merendahkan orang lain. Secara modern filosopi ungkapan ini sama dengan ' win win solution ', yang memiliki arti semua pihak yang berselisih paham memiliki hasil yang menguntungkan untuk semuanya.
Ungkapan Jawa ( Lokal / Indonesia ) sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake tersebut di atas dapat di jadikan pedoman berperilaku dalam hidup kita. Filosofi yang sangat mendasar, yang akan membuat hidup kita menjadi kehidupan yang lebih indah, tanpa merendahkan orang lain, kehidupan yang di isi dengan sikap-sikap kesatria, kehidupan yang jauh dari keserakahan.
- Sing nandhur, bakale ngunduh. ( Siapa yang menanam, pasti akan menuai )
- Adigang, Adigung, adiguna. (Sikap yang sangat sombong )
terimakasih atas respon anda. admin

Kamis, 07 Februari 2019

SIKEPIS INSTITUTE



SIKEPIS INSTITUTE
Berdiri 10 November 2017
Di Pondok Pesantren Petani Nusantara "Sang Cipta Rasa"
Perkuliahan Di Kampus Alam, 
Belajar Tiap Hari, 
Disiplin Ilmu Teritegrasi Agama - Budaya - Kemakmuran, 
Pendaftaran Tanpa Syarat Ijazah Formal, 
Biaya Perkuliahan Seikhlasnya, dan Bisa Free Bagi Siapa Saja. 
Lama Perkuliahan Selama 3 Tahun, Wisuda.

ANGKATAN I TAHUN 2017 - 2020 
Mahasiswa :
1. Muhalim
2. Mahpud
3. Aji fitrianto
4. Suhadi
5. Titor Lesmana

ANGKATAN II TAHUN 2018 - 2021
Mahasiswa : 
1. Sakam Ali Hasan 
2. Solihin 
3. Dartam

ANGKATAN III 2019 - 2022
Mahasiswa 
1. 
2. 
3. 

SIKEPIS ISTITUTE

KETUA

WARINO MA'RUF ABDULLOH ZAKARYA

terimakasih atas respon anda. admin

ERA TASHAWWUF SOCIETY 6.0

Sosialisasi : GENERASI BARU ABAD 21 ERA TASHAWWUF SOCIETY 6.0 (Ki Ageng Sapujagat Al Kajorani Al Jawi) > Revolusi Industri 4.0 mengg...