Senin, 04 Februari 2019

Pangeran Antasari

Pangeran Antasari

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigationJump to search
Pangeran Antasari
Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin
Pangeran Antassarie
Gusti Inu Kartapati
Lukisan Pangeran Antasari menurut Perda Kalsel
Masa kekuasaan14 Maret 1862 - 11 Oktober 1862
PendahuluSultan Hidayatullah Khalilullah
PenggantiSultan Muhammad Seman
Pasangan
1. Ratu Antasari (Ratoe Idjah) binti Sultan Adam
2. Nyai Fatimah (adik Tumenggung Surapati)
Anak
1. ♂ Panembahan Muhammad Said (anak dengan Ratu Antasari)
2. ♂ Sultan Muhammad Seman(anak dengan Nyai Fatimah)
3. ♀ Putri Kaidah (ibu Gusti Mat Napis)
4. ♀ Puteri Hasiah (diperisteri Pangeran Wira Kasuma
WangsaDinasti Banjarmasin
AyahPangeran Masud bin Pangeran Amir
IbuGusti Khadijah binti Sultan Sulaiman
Pangeran Antasari (lahir di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar, 1797[1][2] atau 1809[3][4][5][6] – meninggal di Bayan Begok, Hindia Belanda, 11 Oktober 1862 pada umur 53 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia.
Ia adalah Sultan Banjar.[7] Pada 14 Maret 1862, dia dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.[8]

Gusti Inu Kartapati[sunting | sunting sumber]

Pangeran Antasari merupakan cucu Pangeran Amir.[9] Semasa muda nama Pangeran Antasari adalah Gusti Inu Kartapati.[10] Ibunda Pangeran Antasari adalah Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir. Pangeran Amir adalah anak Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang gagal naik tahta pada tahun 1785. Ia diusir oleh walinya sendiri, Pangeran Nata, yang dengan dukungan Belanda memaklumkan dirinya sebagai Sultan Tahmidullah II[11][12][13]Pangeran Antasari memiliki 3 putera dan 8 puteri.[14] Pangeran Antasari mempunyai adik perempuan yang lebih dikenal dengan nama Ratu Sultan Abdul Rahman karena menikah dengan Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam tetapi meninggal lebih dulu setelah melahirkan calon pewaris kesultanan Banjar yang diberi nama Rakhmatillah, yang juga meninggal semasa masih bayi.

Pewaris Kerajaan Banjar[sunting | sunting sumber]

Dia cucu Pangeran Amir yang gagal naik tahta pada tahun 1785.[15][16] Pangeran Antasari tidak hanya dianggap sebagai pemimpin Suku Banjar, dia juga merupakan pemimpin Suku Ngaju, Maanyan, Siang, Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Bakumpai dan beberapa suku lainya yang berdiam di kawasan dan pedalaman atau sepanjang Sungai Barito, baik yang beragama Islam maupun Kaharingan.
Setelah Sultan Hidayatullah ditipu Belanda dengan terlebih dahulu menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran Hidayatullah) dan kemudian diasingkan ke Cianjur, maka perjuangan rakyat Banjar dilanjutkan pula oleh Pangeran Antasari.[17] Sebagai salah satu pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai sepupu dari pewaris kesultanan Banjar. Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan melawan penjajah di wilayah Banjar bagian utara (Muara Teweh dan sekitarnya), maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, dimulai dengan seruan:
Seluruh rakyat, para panglima Dayak, pejuang-pejuang, para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar; dengan suara bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi "Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin", yaitu pemimpin pemerintahan, panglima perang dan pemuka agama tertinggi.[2]
Tidak ada alasan lagi bagi Pangeran Antasari untuk berhenti berjuang, ia harus menerima kedudukan yang dipercayakan oleh Pangeran Hidayatullah kepadanya dan bertekad melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab sepenuhnya kepada Allah dan rakyat.

Perlawanan terhadap Belanda[sunting | sunting sumber]

Lanting Kotamara semacam panser terapung di sungai Barito dalam pertempuran dengan Kapal Celebes dekat pulau Kanamit, Barito Utara
Perang Banjar pecah saat Pangeran Antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengarontanggal 25 April 1859. Selanjutnya peperangan demi peperangan dikomandoi Pangeran Antasari di seluruh wilayah Kerajaan Banjar. Dengan dibantu para panglima dan pengikutnya yang setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.[18]
Pertempuran yang berkecamuk makin sengit antara pasukan Pangeran Antasari dengan pasukan Belanda, berlangsung terus di berbagai medan. Pasukan Belanda yang ditopang oleh bala bantuan dari Batavia dan persenjataan modern, akhirnya berhasil mendesak terus pasukan Pangeran Antasari. Dan akhirnya Pangeran Antasari memindahkan pusat benteng pertahanannya di Muara Teweh.
Berkali-kali Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, namun dia tetap pada pendiriannya. Ini tergambar pada suratnya yang ditujukan untuk Letnan Kolonel Gustave Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861.
Dalam peperangan, Belanda pernah menawarkan hadiah kepada siapa pun yang mampu menangkap dan membunuh Pangeran Antasari dengan imbalan 10.000 gulden. Namun sampai perang selesai tidak seorangpun mau menerima tawaran ini.[19] Orang-orang yang tidak mendapat pengampunan dari pemerintah Kolonial Hindia Belanda:[20]
  1. Antasari dengan anak-anaknya
  2. Demang Lehman
  3. Amin Oellah
  4. Soero Patty dengan anak-anaknya
  5. Kiai Djaya Lalana
  6. Goesti Kassan dengan anak-anaknya
Monumen Perang Banjar yang dibangun pemerintah Hindia Belanda untuk mengenang tentaranya yang tewas.

Meninggal dunia[sunting | sunting sumber]

Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun. Menjelang wafatnya, dia terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya setelah terjadinya pertempuran di bawah kaki Bukit Bagantung, Tundakan.[21] Perjuangannya dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Muhammad Seman.[22]
Setelah terkubur selama lebih kurang 91 tahun di daerah hulu sungai Barito, atas keinginan Banjar dan persetujuan keluarga, pada tanggal 11 November 1958 dilakukan pengangkatan kerangka Pangeran Antasari. Yang masih utuh adalah tulang tengkorak, tempurung lutut dan beberapa helai rambut. Kemudian kerangka ini dimakamkan kembali Taman Makam Perang Banjar, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin.
Pangeran Antasari telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968.[23] Nama Antasari diabadikan pada Korem 101/Antasari dan julukan untuk Kalimantan Selatan yaitu Bumi Antasari. Kemudian untuk lebih mengenalkan Pangeran Antasari kepada masyarakat nasional, Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) telah mencetak dan mengabadikan nama dan gambar Pangeran Antasari dalam uang kertas nominal Rp 2.000

Bagan Silsilah[sunting | sunting sumber]

KESULTANAN BANJAR
Sultan Tahmidullah 
Sultan Tahmid Ollah
Sultan Tahmid Allah
Panembahan Tingie 
Panembahan Kuning [24]
↓ (berputra)
Pangeran Dipati Sena
Sultan Ilhamid Illah (Chamidullah/Hamidullah)
Sultan Kuning (Kemuning)[25]
↓ (berputra)
Tuan Almusyarafat Pangeran Ratu Anum
Sultan Muhamadiya Uddin Amin Ullah
SULTAN Muhamadiya Uddin Amin Ulatie
Sultan Tamjidillah II[26]
Sultan Tahmidillah 1[27]
↓ berputra
Pangeran Amir (Sultan Amir)
↓ berputra
Pangeran Mas'ud (Masoöd/Masohut)
↓ berputra
Gusti Inu Kartapati
Pangeran Antasari
Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin
↓ berputra
SULTAN BANJAR
↓ (berputra)
  1. ♂ Pangeran Perbatasari (suami Goesti Dijah)
  2. ♂ Pangeran Prabu Anom / Gusti Abdullah
  3. ♂ Gusti Muhammad Arsyad (suami Ratu Zaleha)
SULTAN BANJAR
↓ (berputra)
  1. ♂ Pangeran Banjarmas (anak Nyai Banun)
  2. ♀ Goesti Dijah (anak Nyai Banun; isteri Pg. Perbatasari)
  3. ♀ Ratu Zaleha (isteri Pg. M. Arsyad)
  4. ♂ Gusti Berakit/Berkek (anak Nyai Mariamah)
terimakasih atas respon anda. admin

SEJARAH TUANKU IMAM BONJOL

Tuanku Imam Bonjol

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigationJump to search
Tuanku Imam Bonjol (lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, Indonesia, 1772 - wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotta, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864) adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri pada tahun 1803-1838. Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.
Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shahab, yang lahir di Bonjol pada 1 Januari 1772. Dia merupakan putra dari pasangan Bayanuddin Shahab (ayah) dan Hamatun (ibu). Ayahnya, Khatib Bayanuddin Shahab, merupakan seorang alim ulama yang berasal dari Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh Kota. Sebagai ulama dan pemimpin masyarakat setempat, Muhammad Shahab memperoleh beberapa gelar, yaitu Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan adalah yang menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol. Ia akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol. Salah satu Naskah aslinya ada di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat Jalan Diponegoro No.4 Padang Sumatera Barat. Naskah tersebut dapat dibaca dan dipelajari di Dinas Kearsipan dan Perpustakàan Provinsi Sumatera Barat.

Perang Padri

Tak dapat dipungkiri, Perang Padri meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 18 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang berperang adalah sesama orang Minang dan Mandailing atau Batak umumnya.
Pada awalnya timbulnya peperangan ini didasari keinginan dikalangan pemimpin ulama di kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalankan syariat Islam sesuai dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni) yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Rasullullah shalallahu 'alaihi wasallam. Kemudian pemimpin ulama yang tergabung dalam Harimau nan Salapan meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan Islam (bid'ah).
Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri (penamaan bagi kaum ulama) dengan Kaum Adat. Seiring itu dibeberapa nagari dalam kerajaan Pagaruyung bergejolak, dan sampai akhirnya Kaum Padri di bawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Pagaruyung pada tahun 1815, dan pecah pertempuran di Koto Tangah dekat Batu Sangkar. Sultan Arifin Muningsyah terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan ke Lubukjambi.
Pada 21 Februari 1821, kaum Adat secara resmi bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda berperang melawan kaum Padri dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang, sebagai kompensasi Belanda mendapat hak akses dan penguasaan atas wilayah darek (pedalaman Minangkabau). Perjanjian itu dihadiri juga oleh sisa keluarga dinasti kerajaan Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Tangkal Alam Bagagar yang sudah berada di Padang waktu itu.
Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang, Dalam hal ini Kompeni melibatkan diri dalam perang karena "diundang" oleh kaum Adat.
Perlawanan yang dilakukan oleh pasukan padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. Oleh sebab itu Belanda melalui Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat Perjanjian Masang pada tahun 1824. Hal ini dimaklumi karena disaat bersamaan Batavia juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropah dan Jawa seperti Perang Diponegoro. Tetapi kemudian perjanjian ini dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang nagari Pandai Sikek.
Namun, sejak awal 1833 perang berubah menjadi perang antara kaum Adat dan kaum Paderi melawan Belanda, kedua pihak bahu-membahu melawan Belanda, Pihak-pihak yang semula bertentangan akhirnya bersatu melawan Belanda. Diujung penyesalan muncul kesadaran, mengundang Belanda dalam konflik justru menyengsarakan masyarakat Minangkabau itu sendiri.  Bersatunya kaum Adat dan kaum Padri ini dimulai dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Pato di Tabek Patah yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Agama, Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an)).
Rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol atas tindakan kaum Padri atas sesama orang Minang, Mandailing dan Batak, terefleksi dalam ucapannya Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. Baa dek kalian? (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?).
Penyerangan dan pengepungan benteng kaum Padri di Bonjol oleh Belanda dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837) yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda, tetapi dengan tentara yang sebagian besar adalah bangsa pribumi yang terdiri dari berbagai suku, seperti Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda, terdapat Mayor Jenderal Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, Pembantu Letnan Satu Steinmetz. dan seterusnya, tetapi juga terdapat nama-nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Inlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero.
Terdapat 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara pribumi, Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenep, Madura). Serangan terhadap benteng Bonjol dimulai orang-orang Bugis yang berada di bagian depan dalam penyerangan pertahanan Padri.
Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda, di mana pada tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang, Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan Afrika, 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu, kini negara Ghana dan Mali. Mereka juga disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda.
Setelah datang bantuan dari Batavia, maka Belanda mulai melanjutkan kembali pengepungan, dan pada masa-masa selanjutnya, kedudukan Tuanku Imam Bonjol bertambah sulit, namun ia masih tak sudi untuk menyerah kepada Belanda. Sehingga sampai untuk ketiga kali Belanda mengganti komandan perangnya untuk merebut Bonjol, yaitu sebuah negeri kecil dengan benteng dari tanah liat yang di sekitarnya dikelilingi oleh parit-parit. Barulah pada tanggal 16 Agustus 1837, Benteng Bonjol dapat dikuasai setelah sekian lama dikepung.
Tuanku Imam Bonjol menyerah kepada Belanda pada Oktober 1837, dengan kesepakatan bahwa anaknya yang ikut bertempur selama ini, Naali Sutan Chaniago, diangkat sebagai pejabat kolonial Belanda[7]. Imam Bonjol dibuang ke ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotta, Minahasa, dekat Manado. Di tempat terakhir itu ia meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864. Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut. Tuanku Imam Bonjol menulis autobiografi yang dinamakan Naskah Tuanku Imam Bonjol yang antara lain berisi penyesalannya atas kekejaman Wahabi Paderi[7]. Tulisan tersebut merupakan karya sastra autobiografi pertama dalam bahasa Melayu disimpan oleh keturunan Imam Bonjol dan dipublikasikan tahun 1925 di Berkley[8], dan 2004[9] di Padang.[7]
Perjuangan yang telah dilakukan oleh Tuanku Imam Bonjol dapat menjadi apresiasi akan kepahlawanannya dalam menentang penjajahan,[10] sebagai penghargaan dari pemerintah Indonesia yang mewakili rakyat Indonesia pada umumnya, Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia sejak tanggal 6 November 1973.
Selain itu nama Tuanku Imam Bonjol juga hadir di ruang publik bangsa sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan pada lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001.[11]
terimakasih atas respon anda. admin

Dzikir Jama'i Dan Terjmahnya



DZIKIR JAMA’I
أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ  :
الرقم
الكلم الطيب
مرات
1
لاَإِلَهَ إِلاَّ الله
Tidak ada Tuhan Yang Hak disembah selain Alloh
100/40x
2
الله
100/40x
3
صَلَّى الله عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدْ
Semoga Alloh subhanahuwata’ala mencurahkan rahmat kepada Nabi Muhammad shollallohu’alaihiwasallam
100/40x
4
حَسْبُنَا الله وَنِعْمَ الْوَكِيْل
Cukuplah bagi kami Alloh sebagai pelindung
450/40x
5
يَالَطِيْفُ
Wahai Dzat Yang Maha Lembut
129/40x
6
يَالَطِيْفًا بِخَلْقِهِ يَاعَلِيْمًا بِخَلْقِهِ يَاخَبِيْرًا بِخَلْقِهِ أُلْطُفْ بِنَا يَالَطِيْفُ يَاعَلِيْمُ يَاخَبِيْرُ
Wahai Dzat Yang Maha Lembut kepada segenap makhluk-Nya, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui kepada segenap makhluk-Nya, wahai Dzat Yang Maha Mengawasi kepada segenap makhluk-Nya, berbuat lembutlah (kasihani) kepada kami wahai Yang Maha Lembut, wahai Yang Maha Mengetahui ,wahai Yang Maha Mengawasi
3x
7
يَالَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ أُلْطُفْ بِنَا فِيْمَا نَزَلْ إِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ أُلْطُفْ بِنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ
Wahai Yang Maha Lemah Lembut, selamatkanlah kami dari musibah-musibah yang turun, sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Lembut, berbuat lemah lembutlah kepada kami dan kaum muslimin
3x
8
لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله مُحَمَّدْ رَسُوْلُ الله فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَدَمَا وَسِعَهُ عِلْمُ الله
Tidak ada Tuhan Yang Hak disembah selain Alloh dan Muhammad shollallohu’alaihiwasallam adalah utusan Alloh, dalam setiap desah nafas dan hitungan segala sesuatu yang diketahui oleh Alloh subhanahuwata’ala
4x
9
حَسْبِى رَبِّى جَلَّ الله مَافِي قَلْبِى إِلاَّ الله عَلَى الْهَادِى صَلَّى الله (لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ×3) مُحَمَّدْ رَسُوْلُ الله عَلَيْهِ صَلاَةُ الله        Cukup bagiku Alloh Yang Maha Agung sebagai penolong, tiada terlintas di dalam hatiku selain-Nya dan semoga Alloh subhanahuwata’ala mencurahkan rahmat kepada al-hadi ,Muhammad shollallohu’alaihiwasallam ( Tidak ada Tuhan selain Alloh subhanahuwata’ala 3x) Nabi Muhammad shollallohu’alaihiwasallam utusan Alloh, semoga salam sejahtera selalu tercurah kepadanya
3x
10
يَاعَالِمَ السِّرِّ مِنَّا لاَتَكْشِفِ السِّتْرَ عَنَّا وَعَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا وَكُنْ لَنَا حَيْثُ كُنَّا
Wahai Dzat Yang Mengetahui rahasia-rahasia kami, janganlah Engkau buka aib cela kami, berikanlah kesehatan dan ampunan kepada kami, serta jagalah kami dimanapun kami berada
3x
11
اَللَّهُمَّ ياَ رَبَّناَ جُوْكُوْفُوْنُوْ لُوْبِيْرَانُوْ براَسْ أَكِيْه دُوِيتْ أَكِيهْ كاَغْكُوْ عاَجِيْ لُوْعُوْ حاَجِيْ باَراَكاَهِيْ نَبِيْ وَالِيْ
3x
12
 يَارَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا, وَاغْفِرْلَنَا مَامَضَى يَاوَاسِعَ الْكَرَمِ
Wahai Tuhanku, demi nama al-musthofa, sampaikanlah kami kepada tujuan kami, ampunilah dosa-dosa kami yang telah lampau, wahai Dzat Yang Maha Pemurah
3x
13
 الله  الله إِرْحَمْنَا-أَنْتَ مَوْلاَنَا , الله  الله  وَاقْبَلْنَا-مَالَنَا غَيْرُكَ
Ya Alloh, ya Alloh rahmatilah kami, Engkaulah Tuan kami. Ya Alloh, ya Alloh kabulkanlah doa kami, sunguh kami tiada punya siapa-siapa lagi selain Engkau
3x
14
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
“Maha suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan dan Kesejahteraan dilimpahkan atas Para rasul & segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam”(QS. Ash-Shooffaat: 180-182)
15
Tambahan: Syi’ir & do’a berkah untuk rumah/bangunan ;
هَذِهِ الدَّارُ دَارُ اللهِ وَفِيْهَا عِبَادُ الله
عَمِّرْ هَا يَارَبِّيْ بِجَاهِكْ ياَ رَسُوْلَ الله
terimakasih atas respon anda. admin

Kamis, 31 Januari 2019

KILOMETER NOL BATAS JABAR - JATENG / JATENG - JABAR

 akan segera dibuat tugu ini

PONDOK PESANTREN PETANI NUSANTARA
“SANG CIPTA RASA”
DUSUN CIBADAK, DESA PALEDAH
KEC. PADAHERANG, KAB. PANGANDARAN.

FAKTA SEJARAH PERTANIAN DI DESA DENGAN SWADAYA BUKAN PENCITRAAN,
Pondok Pesantren Petani Nusantara "Sang Cipta Rasa" Pusat PUSDIKLAT Regenerasi Petani Di Dusun Cibadak, Desa Paledah, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran Didirikan 10 November 2017, Jauh Sebelum Lounching "SANTRI TANI MILENIAL" Oleh MENTAN Di Tasikmalaya 25 Januari 2019.

Bagi Pemuda Usia 17 - 39 Tahun Bisa Mengikuti Pendidikan & Pelatihan Wirausaha Agribisnis Dengan Komoditas Sesuai Minat & Bakat Masing - Masing. Biaya DIKLAT GRATIS.
MATERI DIKLAT WIRAUSAHA AGRIBISNIS :
1. Agribisnis Ruminansia (Sapi, Domba & Kambing);
2. Agribisnis Unggas (Entog & Ayam)
3. Agribisnis Hortikultura (Buah - Buahan & Sayuran);
4. Agribisnis Ikan Air Tawar;
5. Agribisnis PAJALE (Padi, Jagung & Kedelai)
6. Agribisnis SAPRODI (Sarana Produksi Pertanian, Peternakan & Perikanan);
7. Agribisnis Makanan & Minuman Olahan.

terimakasih atas respon anda. admin

PUSDIKLAT REGENERASI PETANI PONTREN PETANI NUSANTARA


Bagi Pemuda Usia 17 - 39 Tahun Bisa Mengikuti Pendidikan & Pelatihan Wirausaha Agribisnis Dengan Komoditas Sesuai Minat & Bakat Masing - Masing. Biaya DIKLAT GRATIS.
MATERI DIKLAT WIRAUSAHA AGRIBISNIS :
1. Agribisnis Ruminansia (Sapi, Domba & Kambing);
2. Agribisnis Unggas (Entog & Ayam)
3. Agribisnis Hortikultura (Buah - Buahan & Sayuran);
4. Agribisnis Ikan Air Tawar;
5. Agribisnis PAJALE (Padi, Jagung & Kedelai)
6. Agribisnis SAPRODI (Sarana Produksi Pertanian, Peternakan & Perikanan);
7. Agribisnis Makanan & Minuman Olahan.
terimakasih atas respon anda. admin

MENELUSURI JEJAK SEJARAH KERAJAAN NUSANTARA




Sejarah Panjang Nusantara ( Meniti jejak-jejak sejarah NUSANTARA
Berikut adalah uraian tentang silsilah Kerajaan-kerajaan Besar
[Kerajaan Induk] di Nuswantara mulai dari Jaman Besar Kali Swara, Kali Yoga, sampai Kali Sangara.
1. Kali Swara [ jaman penuh suara alam ]
Dibagi atas 7 Jaman Sedang [Sapta Kala], yaitu :
Kala Kukila | 0 - 100 Tahun Surya
a kerajaan Keling
b kerajaan Purwadumadi
c kerajaan Purwacarita / Purwakandha
d kerajaan Magadha
e kerajaan Gilingwesi
.f kerajaan Sadha Keling
Kala Budha | 101 - 200 Tahun Surya
.a kerajaan Gilingwesi
b kerajaan Medang Agung
c kerajaan Medang Prawa
d kerajaan Medang Gili / Gilingaya
e kerajaan Medang Gana
f kerajaan Medang Pura
g kerajaan Medang Gora
h kerajaan Grejitawati
i kerajaan Medang Sewanda
Kala Brawa | 201 - 300 Tahun Surya
a kerajaan Medang Sewanda
b kerajaan Medang Kamulyan
c kerajaan Medang Gili / Gilingaya
Kala Tirta | 301 - 400 Tahun Surya
a kerajaan Purwacarita
b kerajaan Maespati
c kerajaan Gilingwesi
d kerajaan Medang Gele / Medang Galungan
Kala Rwabara | 401 - 500 Tahun Surya
a kerajaan Gilingwesi
b kerajaan Medang Kamulyan
c kerajaan Purwacarita
d kerajaan Matswapati
e kerajaan Wiratha Wetan
f kerajaan Gilingwesi
Kala Rwabawa | 501 - 600 Tahun Surya
a kerajaan Galuh
b kerajaan Purwacarita
c kerajaan Wirata Anyar
Kala Purwa | 601 - 700 Tahun Surya
a kerajaan Wirata Kulon
b kerajaan Hastina Pura
2. Kali Yoga [ jaman pertengahan ]
Dibagi atas 7 Jaman Sedang [Sapta Kala], yaitu :
Kala Brata | 701 - 800 Tahun Surya
a kerajaan Hastina Pura
Kala Dwara | 801 - 900 Tahun Surya
a kerajaan Hastina Pura
b kerajaan Malawapati
c kerajaan Dahana Pura
d kerajaan Mulwapati
e kerajaan Medang Penataran
f kerajaan Kertanegara
Kala Dwapara | 901 - 1.000 Tahun Surya
a kerajaan Pengging Nimrata
b kerajaan Galuh
c kerajaan Prambanan
d kerajaan Medang Nimrata
e kerajaan Grejitawati
Kala Praniti | 1.001 - 1.100 Tahun Surya
a kerajaan Purwacarita
b kerajaan Mojopura
c kerajaan Pengging
d kerajaan Kanyuruhan
e kerajaan Kuripan
f kerajaan Kedhiri
g kerajaan Jenggala
h kerajaan Singasari
Kala Teteka | 1.101 - 1.200 Tahun Surya
a kerajaan Kedhiri
b kerajaan Galuh
c kerajaan Magada
d kerajaan Pengging
Kala Wisesa | 1.201 - 1.300 Tahun Surya
a kerajaan Pengging
b kerajaan Kedhiri
c kerajaan Mojopoit (Majapahit)
Kala Wisaya | 1.301 - 1.400 Tahun Surya
a kerajaan Mojopoit
b kerajaan Demak
c kerajaan Giri
3. Kali Sangara [ jaman akhir ]
Dibagi atas 7 Jaman Sedang [Sapta Kala], yaitu :
Kala Jangga | 1.401 - 1.500 Tahun Surya
a kerajaan Pajang
b kerajaan Mataram
Kala Sakti | 1.501 - 1.600 Tahun Surya
a kerajaan Mataram
b kerajaan Kartasura
Kala Jaya | 1.601 - 1.700 Tahun Surya
a kerajaan Kartasura
b Kesultanan Surakarta
c Kesultanan Ngayogyakarta
Kala Bendu | 1.701 - 1.800 Tahun Surya
a Kesultanan Surakarta
b Kesultanan Ngayogyakarta
c Indonesia (Republik)
Kala Suba | 1.801 - 1.900 Tahun Surya
Kala Sumbaga | 1.901 - 2.000 Tahun Surya
Kala Surata | 2.001 - 2.100 Tahun Surya
Minimal mulai dari sekarang sangat penting bagi para anak bangsa untuk mengetahui betapa hebat dan luhurnya peran para leluhur Nuswantara ini, terbukti dengan telah tersusunnya silsilah kerajaan-kerajaan Nuswantara mulai dari peradaban awal sampai saat sekarang, para anak bangsa tidak hanya sekedar mengenal Kerajaan Mataram, Majapahit, Singasari, Kuripan dan Kediri saja; akan tetapi masih banyak kerajaan-kerajaan di peradaban yang lebih lama yang entah oleh sebab apa sekarang ini kebesaran Kerajaan tersebut telah digeser ke cerita mitos. Adalah penting semua kebesaran dan kehebatan leluhur kita jatuh kepada kita sendiri sebagai anak cucu yang seharusnya mewarisinya.
Metode penelitian dan penelusuran yang digunakan selama ini adalah dengan mengkompilasikan studi literasi pada relief-relief, prasasti-prasasti serta rontal-rontal kuno yang dipadukan dengan Sastra Cetha, sastra yang tidak tersurat secara langsung. Sastra Cetha sendiri adalah sebuah informasi tak terbatas yang sudah digambarkan oleh alam semesta secara jelas, sebegitu jelasnya sehingga sampai tidak dapat terlihat kalau kita menggunakan daya penangkapan yang terlalu tinggi dan rumit.
Belajar dari tanah sendiri, belajar dari ajaran Leluhur Nusantara sendiri, belajar banyak dari alam semesta, di mana bumi diinjak, di situ langit dijunjung.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya (Ir. Soekarno : bapak ploklamator Indonesia)

terimakasih atas respon anda. admin

ERA TASHAWWUF SOCIETY 6.0

Sosialisasi : GENERASI BARU ABAD 21 ERA TASHAWWUF SOCIETY 6.0 (Ki Ageng Sapujagat Al Kajorani Al Jawi) > Revolusi Industri 4.0 mengg...